Persembahan Persepuluhan

Kutipan Surat Penggembalaan dari Majelis Sinode
Jakarta, 1 April 2011
Nomor : 0444/III-‘11/MS.XIX
Perihal : PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN

Yang terhormat,

  1. Seluruh Majelis Jemaat GPIB
  2. Seluruh BP MUPEL GPIB

di-
Tempat

Berdasarkan keputusan Persidangan Sinode XIX GPIB tahun 2010 dan Per-sidangan Sinode Tahunan tahun 2011, Persembahan Persepuluhan mulai diberlakukan pada 1 April 2011 dan Persembahan Tetap Bulanan tidak diberlakukan lagi. Dibawah ini kami sampaikan beberapa hal untuk memahami dan melaksanakan persembahan persepuluhan secara teknis :

  1. Surat gembala mengenai Persepuluhan (untuk seluruh warga GPIB)
  2. Persepuluhan dilihat dari keputusan-keputusan gerejawi (untuk warga GPIB yang ingin mengetahui dasar-dasar keputusan gerejawi mengenai Persembahan Persepuluhan)
  3. Persepuluhan yang dilihat dari konteks Alkitabiah teologis dan tantangan untuk memberlakukannya secara aktual (untuk para pendeta yang ingin mendapatkan wawasan yang luas mengenai persembahan persepuluhan)
  4. Petunjuk teknis Persepuluhan (untuk Jemaat-jemaat GPIB)

Harapan kami dengan ke empat hal tersebut diatas Pelaksanaan Persem-bahan Persepuluhan yang mulai diberlakukan 1 April 2011 ini menjadi jelas.
Demikian penyampaian kami, atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima Kasih. Tuhan memberkati.

Teriring Salam dan Doa,
MAJELIS SINODE GPIB

Tanda Tangan dan Cap MS

Pendeta M.F. Manuhutu Pendeta Adriaan Pitoy
Ketua Umum Sekretaris Umum

Lampiran II(untuk warga GPIB)

PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN SEBAGAI KEPUTUSAN GEREJAWI

PENGANTAR

Sebuah keputusan gerejawi yang ditetapkan dalam Persidangan Sinode atau Persidangan Sinode Istimewa atau Persidangan Sinode Tahunan adalah hasil pergumulan dan keputusan bersama jemaat-jemaat melalui para presbiter yang diutus ke Persidangan. Karena itu sebuah keputusan gerejawi yang ditetapkan dalam Persidangan Sinode atau Persidangan Sinode Istimewa atau Persidangan Sinode Tahunan, mengikat sekalian warga jemaat dan jemaat- jemaat GPIB. Artinya Ketetapan Persidangan Sinode itu harus diberlakukan di seluruh jajaran pelayanan GPIB di tingkat sinodal maupun di tingkat jemaat dan harus ditaati oleh sekalian presbiter dan warga jemaat.

PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN SEBAGAI SEBUAH KEPUTUSAN GEREJAWI

1.  Tata Gereja GPIB Tahun 2010 yang ditetapkan dalam Persidangan Sinode XIX GPIB Tahun 2010, khususnya Peraturan Nomor 6 tentang Perbendaharaan GPIB menegaskan sebagai berikut (Pasal 6) : Sumber Penerimaan di GPIB terdiri atas :

(1) Jemaat :

(a) Persembahan Wajib (Persepuluhan)

(b) Persembahan Khusus (Persembahan Syukur)

(c) Persembahan Sukarela (Persembahan dalam ibadah-ibadah jemaat).

(d) Bantuan perorangan atau pemerintah yang tidak terikat, baik berupa uang, barang maupun penghibaan.

(e) Hasil investasi

(f) Penerimaan lain-lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan GPIB dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

(2) Sinodal :

(a) Persembahan Wajib : Persembahan Persepuluhan Bulanan), Penggajian Sinodal dan Dana

Penyangga Gaji Pendeta dan Pegawai (DPGP2)

(b) Persembahan Khusus : Persembahan dalam rangka HUT GPIB, HUT Pelkat-Pelkat dan hari-hari raya gerejawi).

(c) Persembahan Sukarela : Persembahan perorangan atau bantuan pemerintah.

(f) Hasil investasi

(g) Penerimaan lain-lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan GPIB dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Jadi, memberikan persembahan persepuluhan di GPIB adalah sebuah keputusan gerejawi yang mengikat dan harus diberlakukan di seluruh jajaran pelayanan GPIB di tingkat sinodal maupun di tingkat jemaat serta wajib ditaati oleh sekalian presbiter dan warga jemaat GPIB.

2.  Sebelum Persidangan Sinode XIX GPIB Tahun 2010 menetapkan Persembahan Persepuluhan (Persembahan Wajib) sebagai salah satu sumber penerimaan di GPIB, Persidangan Sinode XVII GPIB Tahun 2000 di Sekesalam Bandung dalam Ketetapan Nomor 5 tentang Kebijakan Umum Panggilan dan Pengutusan Gereja (KUPPG) Jangka Pendek IV tahun 2001 – 2006 mengatakan : “Meningkatkan kesadaran jemaat tentang tugas dan kewajiban jemaat dalam tugas dan pelayanan serta kesaksian gereja termasuk kesadaran memberi; Menanamkan pengertian tentang persembahan kepada warga jemaat bahwa warga jemaat wajib memberi persembahan syukur firman Tuhan; Persembahan persepuluhan perlu ditingkatkan” (Sasaran KUPPG Jangka Pendek IV Tahun 2001 – 2006 bidang kegiatan Daya dan Dana).

Selanjutnya Persidangan Sinode Istimewa GPIB dalam Ketetapan Nomor 3 tentang Peraturan Nomor 5 tentang Perbendaharaan GPIB Pasal 5 tentang Sumber Penerimaan mengatakan : (1) Penerimaan GPIB diperoleh dari sumber-sumber sebagai berikut : (a) Jemaat, yaitu Persembahan dalam Ibadah/Kebaktian, Persembahan Persepuluhan, Persembahan Khusus, dan Persembahan Syukur Warga Gereja/Jemaat. Pasal 16 tentang Sumber Dana Pembiayaan Majelis Sinode mengatakan : (1) Sumber dana utama bagi pembiayaan rencana kerja tingkat sinodal berasal dari jemaat sebagaimana dinyatakan dalam pasal 5 butir b yaitu ‘sumbangan khusus sinodal dari jemaat’ dengan tekanan pada Persembahan Persepuluhan Jemaat.

Kemudian Persidangan Sinode XVIII GPIB Tahun 2005 dalam Ketetapan Nomor 5 tentang Kebijakan Umum Panggilan dan Pengutusan Gereja (KUPPG) Jangka Pendek I Tahun 2006 – 2011 mengatakan : “Mengadakan pembinaan/seminar/motivasi untuk meningkatkan tingkat kesadaran warga jemaat untuk memberi persembahan; Mengkaji ulang metode pelaksanaan kolekte dalam ibadah; Mengaktifkan persembahan persepuluhan” (KUPPG 2006 – 2011 Pokok-Pokok Program Dana).

Jadi, ketetapan Persidangan Sinode XIX GPIB Tahun 2010 tentang Persembahan Persepuluhan sebagai salah satu sumber penerimaan di GPIB merupakan hasil pergumulan bersama jemaat-jemaat GPIB melalui para presbiter yang diutus ke Persidangan Sinode selama kurun waktu 10 tahun (tahun 2000 – 2010).

PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN SEBAGAI SEBUAH UNGKAPAN SYUKUR KEPADA TUHAN

1.  Persidangan Sinode telah menetapkan bahwa salah satu sumber penerimaan gereja di tingkat jemaat adalah persembahan warga gereja, yaitu :

(a) persembahan persepuluhan sebagai persembahan wajib,

(b) persembahan syukur (khusus),

(c) persembahan sukarela yang disampaikan dalam ibadah-ibadah jemaat.

Dan salah satu penerimaan gereja di tingkat sinodal adalah persembahan jemaat, yaitu : (a) persembahan persepuluhan bulanan dari jemaat-jemaat sebagai persembahan wajib.

2.  Persembahan warga jemaat sesungguhnya adalah ‘ungkapan syukur’ kepada Tuhan atas pemeliharaan Tuhan dan berkat-berkat Tuhan yang dialami dalam kehidupan pribadi maupun bersama keluarga. Karena itu persembahan warga gereja harus diberikan bukan dengan terpaksa atau karena dipaksa, tetapi dengan hati penuh sukacita karena mengucap syukur kepada Tuhan. Seperti yang dilakukan raja Daud ketika memberi persembahan untuk pembangunan Bait Suci di Yerusalem. Daud berkata: “Sekarang ya Allah kami, kami bersyukur kepada-Mu dan memuji nama-Mu yang agung itu. Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu” (1 Tawarikh 29 : 13 – 14).

Juga seperti yang dilakukan warga gereja di Makedonia ketika mereka memberikan persembahan untuk membantu warga gereja di Yerusalem yang sedang dilanda bencana kelaparan (2 Korintus 8 : 1 – 3).

3.  Ada berbagai macam persembahan yang harus bangsa Israel berikan sehubungan dengan ibadah kepada Allah. Pertama, persembahan dalam bentuk korban sembelihan, yaitu : korban bakaran (Imamat 1 : 1 – 17), korban sajian (Imamat 2 : 1 – 16), korban keselamatan (Imamat 3 : 1 – 17), korban penghapus dosa (Imamat 4 : 1 – 5 : 13), korban penebus salah (Imamat 5 : 14 – 6 : 7). Kedua, persembahan dalam bentuk ‘bukan korban sembelihan’, yaitu : persembahan khusus (Keluaran 25 : 1 – 8), persembahan pentahbisan mezbah (Bilangan 7 : 11 – 14).

Mengenai Persembahan Persepuluhan, kitab Bilangan 18 : 20 – 21 mengatakan : “Tuhan berfirman kepada Harun, di negeri mereka engkau tidak akan mendapat milik pusaka dan tidak akan memperoleh bagian di tengah-tengah mereka. Akulah bagianmu dan milik pusakamu di tengah-tengah orang Israel. Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segalam persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan”. Persembahan Persepuluhan yang orang Israel persembahkan kepada Tuhan, adalah milik Tuhan. Tuhan memberikan Persembahan Persepuluhan yang telah menjadi milik-Nya kepada orang-orang Lewi untuk menjadi milik mereka (lihat juga Nehemia 10 : 37; 12 : 44). Sebaliknya, orang Lewi juga diharuskan memberikan Persembahan Persepuluhan dari Persembahan Persepuluhan yang mereka terima (Bilangan 18 : 26).

Kewajiban memberikan Persembahan Persepuluhan ternyata sudah dipraktekkan sejak lama.

Setelah Abraham (nama sebelumnya : Abram) mengalahkan musuh-musuhnya dan ia diberkati oleh Melkisedek, Abraham memberikan Persembahan Persepuluhan kepada Melkisedek (Kejadian 14 : 17 – 20). Sebagai ungkapan syukur kepada Allah yang setia menjaga dan memeliharanya, Yakub berjanji akan memberikan Persembahan Persepuluhan kepada Allah (Kejadian 28 : 18 – 22). Persembahan persepuluhan itu tidak hanya berupa hasil pertanian, tetapi juga berupa korban sembelihan (Imamat 27 : 30 – 32).

Raja Hizkia dari kerajaan Yehuda tidak hanya memerintahkan bangsa Israel supaya mereka membayar Persembahan Persepuluhan kepada Allah, tetapi raja Hizkia juga mengatur pengumpulan dan pendistribusian Persembahan Persepuluhan itu. Raja Hizkia sendiri juga memberikan Persembahan Persepuluhan kepada Allah (2 Tawarikh 31). Nehemia juga bahwa dalam ketaatan kepada Allah dan firman-Nya yang disampaikan dalam Hukum Taurat, melakukan hal yang dengan yang dilakukan oleh raja Hizkia, yaitu memerintahkan bangsa Israel supaya mereka membayar Persembahan Persepuluhan kepada Allah (Nehemia 13). Penulis surat Ibrani juga menyampaikan kepada orang-orang Kristen penerima surat Ibrani tentang kewajiban memberikan Persembahan Persepuluhan (Ibrani 7: 8 – 9).

Memberikan Persembahan Persepuluhan adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar, karena itu adalah perintah Tuhan. Kita tidak akan pernah kekurangan apalagi menjadi miskin karena memberikan persembahan persepuluhan. Melalui nabi Maleakhi Tuhan menegaskan kepada umat-Nya bahwa mereka tidak akan pernah kekurangan apalagi menjadi miskin karena memberikan persembahan persepuluhan (Maleakhi 3 : 10 – 13).

4.  Persembahan Persepuluhan bukan ‘pajak penghasilan’ yang harus umat bayar kepada Tuhan, melainkan adalah ‘ungkapan syukur’ umat kepada Tuhan atas berkat yang Tuhan berikan melalui kerja atau usaha. Jadi Persembahan Persepuluhan diberikan dari hasil kerja atau hasil usaha umat termasuk upah (gaji /honorarium) dan bukan modal kerja. Umat memberikannya kepada Tuhan sebagai ungkapan syukur untuk menopang pelayanan gereja (gereja lokal) dimana ia terdaftar sebagai anggota. Dalam hal ini, para pendeta sebagai Pelayan Firman dan Sakramen juga harus memberikan Persembahan Persepuluhan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas berkat yang Tuhan berikan melalui pelayanan yang ia kerjakan (gaji atau honorarium).

Jemaat-jemaat sebagai gereja lokal juga punya kewajiban untuk menopang pelayanan gereja di tingkat sinodal dengan memberikan Persembahan Persepuluhan setiap bulan kepada Majelis Sinode. Persembahan Persepuluhan yang dimaksud adalah : sepersepuluh dari jumlah Persembahan Persepuluhan warga jemaat setiap bulan, sepersepuluh dari jumlah persembahan syukur warga jemaat setiap bulan, dan sepersepuluh dari jumlah persembahan sukarela warga jemaat (kolekte dalam ibadah-ibadah) setiap bulan.

5. Ucapan Terima Kasih

Majelis Jemaat mengucapkan terima kasih atas perhatian, persembahan dan Sumbangan Bapak/Ibu/Sdr/Sdri guna menunjang pekerjaan Pelayanan dan Kesaksian Gereja. Tuhan Yesus Kristus Sumber Damai Sejahtera dan yang empunya Gereja, memberkati Bapak/Ibu/Sdr/Sdri dan seluruh Warga Jemaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s